Menjadi Tulang Punggung Keluarga, JKN-KIS Jadi Andalan Ibu Satu Ini

Share this:
PELITA MONALD GINTING-BMG
Sumerlin br Ginting ketika sedang menemani mertua saat dalam perawatan medis di Rumah Sakit Amanda Berastagi, Rabu (17/6/2020) lalu.

KARO, BENTENGTIMES.com– Menjadi tulang punggung keluarga sejak ditinggal sang suami yang telah berpulang pada Tuhan, tentu bukan hal yang mudah bagi Sumerlin br Ginting (41). Terlebih dia memiliki dua orang anak yang masih kecil.

“Tahun 2016, suami saya meninggal karena penyakit kanker. Sejak saat itu, saya harus merangkap menjadi kepala keluarga dan juga seorang ibu bagi anak-anak. Saya nggak mau bersedih lama-lama, karena kalau saya sedih, anak saya pasti lebih sedih lagi. Jadi, saya harus kuat,” ungkap Sumerlin, saat ditemui BENTENG TIMES, ketika sedang merawat mertua di Rumah Sakit Amanda Berastagi, Rabu (17/6/2020) lalu.

Untuk menambah penghasilannya, dia pun berjualan menu sarapan pagi yang dititipkannya di warung-warung. Ia juga tidak enggan menerima pekerjaan apa saja, asal halal. Yang ada di pikiran Sumerlin adalah bagaimana anaknya tetap bersekolah dan tercukupi kebutuhan sehari-harinya.

BacaAnak Sakit, Ingat JKN-KIS

Mengenai masalah kesehatan, Sumerlin sangat bersyukur dengan adanya Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (KIS). Kedua anaknya sudah pernah sakit dan dirawat inap. Sumerlin saat itu tidak pusing memikirkan biaya, karena ia tahu JKN-KIS akan menanggung semuanya.

“Anak bungsu saya pernah sakit DBD dan dirawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Mina Kabanjahe, selang dua bulan kemudian malah kakaknya yang terkena DBD dan dirawat di Mina juga,” kenang Sumerlin.

BacaSempat Merasa Tak Butuh, Kini Gencar Ajak Masyarakat Daftar JKN KIS

Di saat sulit seperti sekarang, JKN-KIS sangat membantu Sumerlin. Biaya pengobatan anaknya semua ditanggung. Dia mengaku tidak mengeluarkan biaya satu rupiah pun.

“Inilah program pemerintah yang sangat saya rasakan manfaatnya. Benar-benar menjadi penolong di kala susah. Orang kan kalau sudah sakit itu sudah susah, kalau ditambah beban biaya lagi ya tambah pusing. Makanya, saya berharap agar program ini terus ada lah, jangan berhenti. Kalau ada kurang dalam hal apa misalnya, ya diperbaiki,” pungkas wanita kelahiran Medan ini.

Share this: