Pria Berdarah Jawa yang Cinta Samosir Ini Ubah Rumput jadi Pupuk Cair

Share this:
Erwin Landy memberi pemahaman dan manfaat penggunaan pupuk organik untuk tanaman di Samosir, Senin (14/5/2018).

SAMOSIR, BENTENGTIMES.com – Sejumlah petani tampak bersemangat belajar dan praktik langsung di Desa Pindaraya Kabupaten Samosir, Senin (14/5/2018) untuk membuat pupuk cair, walau saat itu hujan mengguyur Pulau Samosir.

Mereka dimotori oleh relawan tani Erwin Landi yang difasilitasi Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Utara. Erwin merupakan orang yang telah lama jatuh cinta dengan Samosir.

Menggunakan peralatan seadanya dan semak-semak ‘sipaet-paet’ sebagai bahan dasar Pupuk Organik Cair (POC), Erwin menjelaskan bagaimana mengolahnya menjadi pupuk organik yang baik. Sambil menunjukkan ‘sipaet-paet’ dia menyulap tumbuhan semak hingga fermentasi menjadi kompos.

(BACA: Sihar Sitorus Dengarkan Keluhan Petani di Tengah Sawah)

Di tengah ‘kepungan’ pestisida yang cukup merajalela, petani-petani ini diedukasi melestarikan alam dalam membangun pertanian dan hasil tani yang mumpuni juga telah dirasakan sebagian petani. Bahan baku seperti jerami, rumput, gedebog pisang limbah dapur, semua dicincang.

Erwin Landy, seorang ahli pertanian yang mendedikasikan diri bersama petani Samosir Frans Siallagan mencoba membuka mata petani-petani kecil di Pulau Samosir. Pada proses pembuatan, produk yang dihasilkan tak hanya pupuk semata. Hasil fermentasi yang diproduksi, bahkan dijadikan sebagai pengusir hama tanpa membunuh.

“Selain menambah kesuburan tanaman, kalau ada hama, seperti burung yang mau memakan padi, maka akan pergi begitu saja. Begitu pun hama lainnya, tak perlu berdosa memusnahkannya dengan racun, tapi hama-hama akan pergi begitu saja dan tanaman terjaga,” ujar Erwin yang akrab disapa Bumi Samosir ini.

Erwin yang merupakan seorang pria berdarah Jawa ini mengatakan bahwa bertani organik menggunakan pupuk alam memang seperti terdengar kuno. Bahkan, teknologinya sederhana, namun mempunyai dampak yang sangat luar biasa.

(BACA: Djarot di Rakorwil Akurindo: Kau Harus Makan Apa yang Ditanam Petani Sendiri)

Di sisi lain, dia berharap petani semakin menggalakkan pengadaan pupuk organik. Apalagi bahan mentah pupuknya bertebaran di segala penjuru Pulau Samosir, yakni semak ‘sipait-pait’, yang paling bagus untuk dipermentasi.

Inisiatif mereka selama ini tanpa campur tangan pemerintah. Mereka hanya diedukasi Erwin yang seorang relawan yang bergelut 15 tahun fokus mencari solusi untuk mengatasi permasalahan pertanian di Samosir. Dengan teknologi yang murah, dan bahan baku yang ada di alam sekitar, petani mulai semangat meninggalkan pestisida.

Frans Siallagan, satu dari petani di Samosir mengatakan bahwa kompos organik yang dihasilkan menjadi pilihan alternatif baginya. Pengolahannya dianggap mudah. Bahkan secara manual saja petani dapat memproduksi hanya bermodalkan drum atau tong sebagai wadah fermentasi.

Kata Frans, menggunakan pupuk organik hasil tanamnya lebih baik. Produksi pertanian meningkat dan tak lagi ketergantungan penggunaan pupuk kimia.
“Kerusakan struktur dan tekstur tanah menjadi berkurang dan saya kerugian akibat gagal panen tak lagi mengganggu. Dulu, petani lain gagal panen. Tetapi, dengan pupuk organik ini kami lepas dari kegagalan,” ujarnya.

(BACA: Sedihnya Petani di Saribudolok, Harga Cabai Merah Anjlok)

Petani-petani tersebut berkomitmen kembali menerapkan pola pertanian para pendahulu sebagai bentuk kearifan lokal. Penggunaan pupuk organik dianggap cukup berguna dalam memperbaiki tekstur tanah serta ramah lingkungan.

Memang penggunaan pupuk kimia jauh lebih praktis, sehingga petani cenderung memilihnya dalam budidaya tanaman mereka. Saat ini, dengan bahan-bahan yang ada, seperti daun bambu, batang pisang serta daun lamtoro, pupuk kandang, ‘sipaet-paet’, telah menggeser sedikit demi sediki pestisida dan menghasilkan produksi serta mutu tanaman yang lebih baik.

Sebelumnya, menuju perladangan, Erwin mengajak pengusaha hotel di Tuktuk agar dapat mengolah limbah menjadi pupuk organik sehingga bermanfaat bagi petani. Hal itu didukung Dinas UPT Pengelolaan Kualitas Air Danau Toba.

“Penggunaan pupuk kimia dalam budi daya tanaman semakin memprihatinkan. Kualitas dan produksi pertanian mengalami penurunan. Kerenanya, penggunaan kompos pengganti pupuk kimia menguntungkan dan lebih tepat,” ujar Kepala UPT Pengelolaan Kualitas Air Danau Toba Fauzi Ibsa Tarigan.

Share this: