Benteng Times

Djarot Ziarah ke Makam Kiras Bangun di Kaki Gunung Sinabung

Calon Gubernur Sumatera Utara Djarot Syaiful Hidayat ziarah ke makam Pahlawan Nasional asal Tanah Karo, Kiras Bangun, Selasa (13/3/2018).

KARO,BENTENGTIMES.com – Pahlawan itu bisa siapa saja, dari mana saja. Pahlawan itu adalah mereka yang memiliki nilai lebih, punya kemampuan yang tidak dipunyai orang lain serta mendedikasikannya untuk bangsa dan negara.

Demikian disampaikan Calon Gubernur Sumatera Utara Nomor Urut Djarot Syaiful Hidayat saat berziarah ke Makam Kiras Bangun (Gara Tama), Pahlawan Nasional asal Tanah Karo di Desa Batu Karang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Selasa (13/3/2018).

“Alharum Kiras Bangun ini telah menginspirasi kita generasi penerus bangsa bahwa pahlawan itu bisa dari mana saja. Seperti bilau (alm Kiras Bangun) dari kaki Gunung Sinabung,” ujar Calon Gubernur yang berpasangan dengan Calon Wakil Gubernur Sumatera Utara Sihar Sitorus ini.

(BACA: Djarot Kunjungi Tempat Pengasingan Bung Karno)

Dia menyebutkan, siapa saja kalau bisa memberikan manfaat besar pada bangsa dan negara ini maka itu juga bisa disebut pahlawan.

Calon Gubernur Sumatera Utara Djarot Syaiful Hidayat bersama para pengurus PDIP Sumut dan Karo, berziarah ke makam Pahlawan Nasional asal Tanah Karo, Kiras Bangun, Selasa (13/3/2018).

Sekadar diketahui, Kiras Bangun merupakan pahlawan Nasional dari Tanah Karo yang gelar kepahlawanan itu diberikan pada 9 November 2005 oleh Presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono.

Ulama yang juga dikenal dengan julukan Garamata (Bermata merah) ini adalah seorang yang mampu menggalang kekuatan lintas agama di Sumatera Utara dan Aceh untuk menentang penjajahan Belanda.

Dia merupakan ulama kelahiran 1852, kampung Batu Karang, Kabupaten Karo. Semasa mudanya, ia bekelana dari satu urung (desa) ke urung lain untuk memelihara norma, adat dan budaya.

Kerjasama antar desa yang digalang tersebut menghasilkan pasukan yang disebut pasukan Urung yang beberapa kali terlibat pertempuran dengan Belanda di Tanah Karo sejak tahun 1905. Kiras juga memimpin gerakan bawah tanah di daerah tersebut.

(BACA: Beringin Berdaun Cemara, Only Two In The World Ada di Pesanggrahan Bung Karno Berastagi)

Tentara Belanda menggunakan taktik oportuniteit beginsel yang membuatnya keluar dari persembunyian dan menangkap serta membuangnya di Riung.

Dan, pada tahun 1909, ia dilepaskan, meskipun masih dalam pengawasan Belanda. Dari tahun 1919 sampai 1926, ia dibantu oleh kedua putranya memimpin pemberontakan di Tanah Karo.

Kiras bersama kedua anaknya akhirnya dibuang ke Cipinang di mana ia terus berjuang melawan penjajahan Belanda dalam bidang kemanusiaan.

Calon Gubernur Sumatera Utara Djarot Syaiful Hidayat bersama para pengurus PDIP Sumut dan Karo, berziarah ke makam Pahlawan Nasional asal Tanah Karo, Kiras Bangun, Selasa (13/3/2018).

Dan, pada akhirnya Kiras meninggal pada tanggal 22 Oktober 1942 dan dimakamkan di Desa Batukarang, Payung, Kabupaten Karo.

Banyak tokoh yang sudah pernah berziarah ke makam Kiras Bangun, seperti Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri dan Sultan Hamengkubuwono.

Dan, di desa ini juga Megawati ditabalkan menjadi Bru Peranginangin ketika dia masih menjabat ketua PDI sebelum terbagi menjadi dua.

Exit mobile version