Benteng Times

Viral: Suamiku Ternyata Serong dengan Adiknya, Bahkan Mereka Sudah Punya Anak

Foto pernikahan pemilik akun Facebook Dek Yuli S, dan ternyata pernikahan itu kandas karena suaminya serong dengan adiknya.

RIAU, BENTENGTIMES.com – Postingan akun Facebook Dek Yuli S berupa curahan hatinya telah menggegerkan dunia maya. Hingga Rabu (14/2/2018), postingan tersebut sudah dibagikan hingga 7.892 kali. Curhatan tersebut pun berisi sebuah tragedy yang ia rasakan, dimana suaminya ternyata serong, sebelumnya sudah menikah dengan adik kandungnya sendiri, bahkan sudah memiliki anak.

Berikut curhat pemilik akun Dek Yuli S tersebut: Saya baru menikah 7 bulan yang lalu di Medan dengan seorang pria bernama LRA asal Tarutung, anak dari mertua saya L br S (mertua laki-laki saya sudah meninggal).

Suami saya ini dibesarkan oleh adik perempuan mertua saya (tante suami saya) yang menikah degan seorang pendeta, yaitu Pdt EM sejak usia 2 tahun, yang dipanggil oleh suami saya degan sebutan papi dan mami.

Dia juga yang memberkati pernikahan kami. Sebelumnya, kami menjalani hubungan pacaran 2 tahun dan long distance. Suami saya bekerja di sebuah perusahaan swasta di Kecamatan Duri Mandau, Riau.

Dia tinggal di sana dengan seorang adik perempuannya kandung bernama EA. Adik perempuannya ini mempunyai seorang anak laki-laki yang kondisi mentalnya (maaf) kurang normal. Tidak ada kejanggalan yang saya rasakan hingga hari pernikahan kami.

Ketika hari pernikahan kami tiba, ada sedikit kejanggalan yang saya perhatikan, dimana selama prosesi pernikahan berlangsung sejak pagi hingga malam (pulang ke rumah mertua dari gedung), tidak sekalipun adik perempuannya itu menyalam saya.

Dan, ketika giliran sesi foto keluarga mereka di gereja, adik perempuannya itu mengantarkan anaknya kepada suami saya. Kemudian setelah selesai acara, selama 2 malam kami menginap di hotel karena rumah mertua penuh, setiap pagi selama 2 hari berturut-turut adik ipar saya itu selalu menelepon suami saya dan memintanya untuk segera pulang degan berbagai alasan yang dibuat-buat. Namun saya berhasil menggagalkannya.

Dan, di hari ke-3 kami berumah tangga, kami menginap di rumah mertua (orangtua angkat suami saya yang juga tante kandungnya). Namun keganjalan itu muncul lagi. Ketika kami masuk ke dalam kamar (di lantai 2 rumah), tidak lama, anak dari adik ipar saya itu menangis di depan kamar kami. Dan, suami saya membuka pintu kamar dan membawa anak itu masuk ke kamar kami.

Saya mulai heran kenapa anak itu bisa ada di depan kamar kami (karena biasanya anak itu tidak pernah dibiarkan naik sendiri ke lantai 2 rumah). Saya kemudian turun untuk melihat keadaan di bawah dan saya melihat mamanya (adik ipar saya) sedang asyik main hp.

Setelah saya naik kembali ke kamar dan memberitahu suami saya, ternyata suami saya marah dan menyalahkan saya dan tidak lama kemudian adk ipar saya mengirim BBM (BlackBerry Message) kepada suami saya untuk mebuat susu anaknya dan mengganti baju anaknya. Dan, suami saya melakukan perintahnya.

Terjadi pertengkaran antara saya dan suami waktu itu. Namun akhirnya saya mengalah. Banyak kejanggalan lagi hingga akhirnya kami tinggal di Duri-Riau.

Setiap waktu luang suami saya selalu dihabiskan di rumah adik kandungnya itu, sedangkan saya di rumah sendirian.

Suami saya juga tidak jujur terhadap penghasilannya tiap bulan. Dia tetap membiayai penuh adik perempuannya dan anak itu yang berusia 5 tahun yang bersekolah di sekolah swasta khusus anak berkebutuhan khusus. Sementara kami belum punya apa-apa di rumah dan uang saya terima bahkan tidak cukup untuk makan kami sehari-hari.

Namun itu harus saya pergunakan untuk semua kebutuhan kami, termasuk membayar kontrak rumah. Akhirnya 3 minggu di Duri, saya memutuskan pulang karena suami saya tidak mau jujur. Saya permisi pulang degan niat supaya kita bisa introspeksi diri masing-masing

Empat bulan di Medan, saya tidak dinafkahi sama sekali. Dan, suami saya membujuk saya pulang dengan janji akan memperlakukan saya seperti seorang istri.

Awal November saya pulang ke Duri, Riau, dan ternyata suami saya tidak berubah, malah makin parah. Dia tetap tidak jujur soal penghasilannya (tiap ditanya dia jawab ‘bukan urusanmu’). Dia tetap menghabiskan waktu luangnya dengan adik perempuannya.

Hingga tanggal 17 November 2017, pagi-pagi buta sekitar pukul 06.00 lebih, suami saya pergi diam-diam ke rumah adik perempuannya dengan cara keluar lewat jendela (saya masih tidur karena masih hujan).

Ketika saya terbangun, saya mencari suami saya dan tetangga depan rumah memberitau kalau suami saya pergi lewat jendela. Kemudian saya mencarinya dengan menggunakan ojek ke rumah adik perempuan suami saya itu.

Sekitar satu jam saya mencari, akhirnya saya menemukan rumah adk ipar saya, juga di Duri, Riau), karena melihat sepedamotor suami saya parkir di depan rumah itu (sebelumnya saya tidak tau rumah aidk ipar saya karena saya tidak dibolehkan suami dan mertua saya untuk ikut ke sana).

Saya melihat mereka berduaan di dalam rumah dan suami saya menemani adik perempuannya sarapan lontong yang dibelikan suami saya.

Pemandangan yang cukup romantis menurut saya. Hingga mereka sangat terkejut melihat saya berdiri di depan pintu. Saya meminta suami saya pulang supaya kami bicarakan semua di rumah, namun suami saya tidak mau.

Adik ipar saya malah bilang ‘jagan kau bikin ribut di rumah kami’. Akhirnya saya marah dan mengatakan agar tidak lagi mengganggu rumah tangga kami. Akhirnya terjadi adu mulut dan suami saya menyeret saya ke dalam rumah itu, kemudian memegangi saya sehingga adik kandungnya itu bebas memukuli saya hingga memar di bagian kening.

Saya melaporkan kejadian ini ke Polsek Duri Mandau, namun mereka tidak menanggapi masalah keluarga, kemudian saya melaporkan ke RT tempat tinggal mereka atas kelakuan mereka selama ini.

Ternyata RT bilang mereka adalah suami istri dan memberikan kartu keluarga mereka sebagai bukti kepada RT ketika baru pindah 4 tahun yang lalu.

Saya pun menjelaskan bahwa mereka abang beradik kandung dan saya istri sahnya sambil menunjukkan akta nikah catatan sipil kami dan foto-foto pernikahan kami.

Akhirnya RT pun mengusir adik ipar saya itu (Linda) karen telah menipu dan kumpul kebo. Kemudian, pertengkaran dalam rumah tangga kami makin sering terjadi hingga suami saya main tangan, hingga saya melaporkannya lagi ke Polsek Mandau Duri, Riau, 8 Desember 2017, dan belum diproses hingga sekarang.

Saya pernah mengadukan masalah ini kepada ibu mertua saya via telepon, namun beliau malah bilang ‘sampai kapanpun ga bisa kau pisahkan si L (suami saya) dan si EA (adik kandung suami saya). Kalau kau ga tahan, kau saja yang pergi, biar mereka bisa sama-sama lagi’.

Akhirnya saya mendatangi kantornya dan melaporkan kejadian itu kepada HRD, tapi HRD malah bilang suami saya sudah lama menikah dan menunjukkan kartu keluarga suami saya yang berstatus menikah dan istrinya adalah EA (adik kandungnya sendiri).

Dan anak itu ternyata anak mereka. Sambil menangis saya menunjukkan akta nikah gereja dan akta nikah sipil kami beserta foto-foto pernikahan kami. Akhirnya HRD percaya pada saya dan berjanji akan memberi sanksi pada suami saya karena juga menipu perusahaan selama 5 tahun (kartu keluarga dan KTP itu diberikan sejak 2012).

Saya sudah menghubungi keluarga suami saya dari kampung asalnya di Tarutung via telepon, tapi mereka lepas tangan.

Saya sudah menghubungi pihak tulang dari suami saya, tapi juga lepas tangan dengan alasan dilarang ikut campur oleh mertua saya.

Bahkan saya dan orangtua saya sudah mendatangi orangtua angkatnya (tante suami saya) untuk minta jalan keluarnya. Tapi mereka juga menjawab ‘mamaknya sudah bilang sama kami kalau kami bukan orangtuanya, jadi jangan ikut campur’.

Maka kami tidak bisa berbuat apa-apa. Saya, orangtua saya dan kakak-kakak saya bolak balik menelepon orangtuanya, tapi tidak diangkat, bahkan nomor kami sekarang sudah diblokir.

Saya membagikan kisah ini karen saya tidak mau ada korban lagi setelah saya. Karena suami saya bilang, setelah cerai dengan saya, mamanya akan menikahkan dia lagi.

Mungkin untuk menutupi aib suami saya dan adik perempuannya itu. Karena saya pun dinikahi hanya unttk itu.

Bagi warganet yang suku Batak, apa boleh menikahi adik kandungnya sendiri? Apa adat di Tarutung menghalalkan hubungan sedarah? Apa kelakuan suami saya, adik ipar saya dan keluarganya ini bisa ditolerir?

Mohon pendapatnya. Saya pribadi sudah memutuskan untuk tidak akan pernah lagi melanjutkan rumah tangga ini karena saya tidak akan pernah mau berbagi suami dengan siapapun.

Dan, adik ipar saya pernah bilang via telepon: ‘selama aku hidup tidak akan kubiarkan itoku sama kau’.

Exit mobile version