Benteng Times

Dua Pahlawan Nasional asal Tanah Karo, Gigih Perangi Belanda Hingga Namanya Diabadikan Jadi Nama Jalan

Djamin Ginting dan Kiras Bangun.

KARO, BENTENGTIMES.com– Kabupaten Karo adalah satu dari 34 daerah tingkat dua di Provinsi Sumatera Utara. Lokasinya berada di jajaran Bukit Barisan, terletak di ketinggian 200 meter hingga 1.500 meter di atas permukaan laut.

Penduduk asli yang mendiami Kabupaten Karo adalah Suku Karo.

Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Karo, masyarakat Karo dikenal dengan semangat patriotismenya dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan.

Tidak heran, banyak pejuang dan pahlawan yang berasal dari Tanah Karo. Di antara mereka, ada yang dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah Republik Indonesia.

Berikut pahlawan nasional asal Tanah Karo:

Kiras Bangun, Sosok yang Dijuluki Garamata

Sosok pejuang kelahiran Tahun 1852 di Kampung Batu Karang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara ini, dikenal dengan sikapnya yang tegas dan anti-Belanda. Kiras Bangun menjadi sosok berpengaruh di tanah kelahirannya.

Ia memangku berbagai jabatan penting di kampungnya, seperti penghulu dan ketua adat, serta menjadi juru damai atas berbagai sengketa yang terjadi, baik itu antarkampung, antarmarga, maupun antara orang Karo dan Aceh.

Ketika terjadi Perang Sunggal (1872-1895), antipati Kiras Bangun terhadap Belanda sudah terlihat jelas. Ia mengirim pasukan untuk membantu penduduk Langkat dalam melawan Belanda.

Sejak itu, Belanda mengetahui pengaruh besar Kiras Bangun. Tak heran, ketika Belanda hendak menguasai Tanah Karo untuk meluaskan lahan perkebunan tembakau dan karet, Belanda mendekati Kiras Bangun dengan mengiming-iminginya jabatan, uang, dan senjata.

Tapi, sosok yang dijuluki Garamata (bermata merah) itu tegas menolak hingga kemudian terjadilah perlawanan terhadap Belanda.

Kiras Bangun yang diangkat sebagai pemimpin, menghimpun pasukan serta mengumpulkan senjata untuk mengusir Belanda. Dia menempatkan pasukan di perbukitan yang terletak antara Berastagi dan Sepuluh Dua Kuta.

Namun, satu per satu wilayah berhasil dikuasai Belanda hingga akhirnya membuat Kiras Bangun dan pasukan terdesak dan mundur ke Batu Karang.

Tak berhasil mempertahankan wilayah, Kiras Bangun harus menyaksikan Batu Karang jatuh ke tangan Belanda.

Lalu, Belanda menawarkan perundingan kepada Kiras Bangun. Meski menyadari itu adalah jebakan, ditambah lagi banyaknya rakyat tewas akibat pertempuran, Kiras Bangun terpaksa keluar dari tempat persembunyiannya.

Belanda dengan tipu muslihatnya lalu menangkap dan membuangnya ke Riung.

BacaPerjuangan Nerus Ginting, Demi Indonesia Diasingkan ke Boven Digul, Papua

BacaTahukah Kamu Siapa Perdana Menteri Indonesia Pertama?

Setelah memperoleh kebebasan pada 1909, Kiras Bangun tetap melanjutkan perjuangan melawan Belanda.

Pada 22 Oktober 1942, pejuang dari Tanah Karo ini meninggal dunia di Batu Karang, tempat kelahirannya.

Kiras Bangun dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah pada 7 November 2005.

Halaman Selanjutnya >>>

Djamin Ginting, dari Tentara Sukarela Hingga Jenderal Bintang Tiga

Djamin Ginting, dari Tentara Sukarela Hingga Jenderal Bintang Tiga

Kemudian, Djamin Ginting. Ia lahir pada 12 Januari 1921 di Desa Suka, Kabanjahe, Karo, Sumatera Utara.

Sosoknya dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang gigih menentang pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Karo, tanah kelahirannya.

Karirnya di militer dimulai dengan mengikuti pendidikan calon perwira Gyugun, yaitu tentara sukarela bentukan Jepang sebagaimana halnya Pembela Tanah Air (PETA). Ketika Jepang kalah di Perang Dunia II, Djamin bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Kemudian, Djamin menjadi Komandan Batalyon II TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Kabanjahe. Lalu, Komandan Batalyon I Resimen II TRI (Tentara Republik Indonesia) yang sekaligus didapuk sebagai Ketua Biro Perjuangan Daerah XXXIX Sumatera Timur.

Berbagai pertempuran dilakukan Djamin Ginting dan pasukannya melawan Belanda, sejak Belanda melancarkan agresi pada 1947 ke sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Medan.

Bukan hanya itu, bersama pasukannya, Djamin Ginting berhasil mengamankan perjalanan Wakil Presiden Mohammad Hatta, dari Berastagi menuju Bukit Tinggi. Pasalnya, jalur tersebut sudah dikuasai tentara Belanda.

Ketika terjadi peristiwa Gerakan 30 September oleh PKI, Djamin yang waktu itu sudah pindah dinas ke Jakarta diangkat sebagai Inspektur Jenderal Angkatan Darat oleh Panglima Kostrad Mayjen Soeharto.

Setelah itu, dia dilantik sebagai Sekretaris Presiden/Kepala Kabinet Presiden merangkap Wakil Sekretaris Negara.

Djamin Ginting juga sempat menjadi Anggota DPRGR dan MPRS. Terakhir, dia mengemban tugas sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh Republik Indonesia di Kanada.

Djamin Ginting wafat di Ottawa, Kanada pada 23 Oktober 1974.

BacaKetika Bung Karno Menantang Para Insinyur Peneliti ITB Membuat Batu Jadi Baju

BacaDandim Karo: Saya Lihat Makam Pahlawan Kabanjahe Seperti Era 1900-an

Pada November 2014, pemerintah menetapkan Letjen TNI (Purn) Djamin Ginting sebagai pahlawan nasional. Ia adalah putra Tanah Karo pertama yang diberi gelar pahlawan nasional.

Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai nama jalan yang terbentang dari Kota Medan ke tanah Karo sepanjang 80 kilometer.

Halaman Sebelumnya <<<

Exit mobile version