Benteng Times

JKN-KIS Bukan Sekadar Sedia Payung Sebelum Hujan, tapi Juga Ladang Amal

Ametta br Tarigan saat ditemui di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Mina Kabanjahe, Kamis (18/6/2020) lalu.

KARO, BENTENGTIMES.com– Ametta br Tarigan (53) berbagi kisah tentang pengalamannya bersama JKN-KIS. Wanita berusia 53 tahun ini mengungkapkan sudah sering memakai BPJS. Dan, sejak menjadi peserta BPJS, dia belum pernah mengeluarkan biaya setiap kali berobat.

“Kesannya, selalu puas lah,” ucap Ametta br Tarigan, ketika ditemui BENTENG TIMES, Kamis (18/6/2020) lalu, di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Mina Kabanjahe.

Saat itu, ibu dari dua orang putra dan putri ini sedang menjaga kerabatnya yang sedang sakit sejak tiga hari lalu. Meski belum sempat pulang ke rumah untuk beristirahat, Metta demikian biasa ia disapa terlihat tetap ramah.

Metta mulai mengenal program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) pada tahun 2014. Kala itu, dia melihat tetangganya ramai mendaftar menjadi peserta JKN-KIS.

“Jujur saja, waktu itu, saya belum mau daftar, karena saya rasa belum perlu. Keluarga kami jarang sakit,” ujarnya.

Tapi anggapan itu langsung berubah ketika dia melihat tetangga yang tiba-tiba terkena tumor dan harus dioperasi dan sama sekali tidak mengeluarkan biaya satu perak pun.

“Disitu saya mulai berpikir, sakit siapa yang tahu kapan datangnya, jadi lebih baik kita punya persiapan. Ya dengan punya kartu ini (red-KIS),” tutur wanita yang sehari-hari bekerja di ladang ini.

BacaAnak Sakit, Ingat JKN-KIS

Perkiraan Metta itu pun terbukti benar. Beberapa bulan kemudian, putra sulungnya terkena penyakit mata. Setelah diperiksa dokter, mata putranya itu pun harus menjalani perawatan dan terapi rutin. Jika tanpa JKN-KIS, tentu mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup besar.

Setelah merasa dibantu JKN-KIS, perlahan anggapan Metta pun berubah dari yang tadinya hanya untuk persiapan di kala sakit saja, kini juga sebagai ladang membantu orang lain yang membutuhkan seperti putranya dulu.

BacaOperasi Miom Tak Terkendala karena JKN-KIS

Dia mengaku baru sadar kalau uang untuk perawatan anaknya yang kemarin itu, datangnya dari peserta lain. Jadi, ia merasa berhutang budi.

“Jadi, mulai sekarang, pola pikirnya mulai berubah. JKN-KIS bukan hanya sebagai ‘sedia payung sebelum hujan saja’, tapi juga sebagai jalan kita membantu orang lain. Lebih baik sehat dan dapat membantu orang lain, daripada sakit tapi dibantu terus” tutup Metta mengakhiri perbincangan.

Exit mobile version