Benteng Times

Kisah Erwin Siahaan, Driver Ojek Online yang Lolos jadi DPRD: Mamak Pijat Tuhan

Erwin berziarah ke makam ibunya di pemakaman Pemda Smalingkar B, Medan.

MEDAN, BENTENGTIMES.com – Kontestasi Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 lalu menyisakan banyak kisah. Ada air mata, ada senyum bahagia, bahkan tak sedikit juga sumpah serapah.

Salah satu kisah yang begitu menginspirasi adalah lolosnya seorang calon legislatif (caleg) yang pekerjaan sehari-harinya adalah driver ojek online. Namanya Erwin Siahaan, caleg nomor urut 01 dari PSI untuk DPRD Kota Medan.

BACA: Terkait Penangkapan Dodi Shah, DPW PSI Sumut: Statement Ketua KNPI Sumut Berbahaya

Erwin mengatakan bahwa sudah mendapat berita dari rapat pleno KPU Kota Medan bahwa dirinya mendapatkan suara yang mencukupi untuk menjadi Anggota DPRD Kota Medan. Dia memperoleh 2.038 suara. Baginya, perolehan suara ini diyakini berkat jasa dan nasehat sang ibu, Julianda Nababan.

Dia juga mengisahkan kenangan-kenangan terakhirnya bersama ibu, yang pergi menghadap Ilahi saat dia sedang bertarung dalam kancah perpolitikan tersebut.

“Makasih banyak, Mak. Mamak kan sudah dekat sama Tuhan. Pasti mamak bilang, supaya ditolong aku. Mamak pijat-pijat Tuhan, supaya dikasihnya aku menang,” ucap Erwin Siahaan di pemakaman Pemda Smalingkar B, Medan, Minggu (12/5/2019). Diketahui bahwa sang ibunda berprofesi sebagai tukang pijat keliling.

BACA: Pileg Kota Medan, Petahana Bertumbangan, Ini Mereka yang Bertahan

Dia mengisahkan, di masa-masa terakhir kebersamaan mereka, ibunya selalu hadir memberi semangat saat dirinya sedang memikirkan biaya kampanye.

“Tiba-tiba mamak datang ke teras rumah pada tanggal 7 September 2018. Mamak datang bawa ayam gulai. Diajaknya aku makan. Dia lalu berkata, aku percaya sama kau anakku, jadi kalau ini jalannya, Tuhan akan mewujudkannya,” kata Erwin menirukan ucapan ibunya padanya saat itu.

BACA: Dugaan Penggelembungan Suara Caleg di Golkar, Anthon Sihombing Tatap MK

Dan, gulai tersebut merupakan makanan terakhir yang diberikan ibu padanya, karena dua hari kemudian ibu Erwin meninggal dunia. Dan, ternyata sang ibu memiliki polis asuransi Prudential sebesar Rp102 juta.

“Uang itu dibagi empat dengan anaknya, Rp23 juta satu orang. Untuk biaya pemakaman Rp7 juta per satu anak, kemudian uang saya dipinjam agen Prudential sebesar Rp4 juta. Dari sisa Rp12 juta itu, saya gunakan untuk biaya kampanye,” ujarnya.

Dengan uang tersebut, Erwin pun melangkah mensosialisasikan visi dan misinya, mengetuk hati masyarakat untuk mau memilihnya.

“Aku banyak sosialisasi ke perhimpunan, marga Batak, seperti marga Siahaan, kemudian masuk Nababan, masuk ke perhimpunan marga br Tobing dan marga lainnya,” ujar ayah dua anak tersebut.

Tak hanya itu, Erwin juga banyak mensosialisasikan visi dan misinya kepada komunitas driver ojol.

Erwin mengaku berani terjun dalam kontestasi perpolitikan ini karena prihatin dengan kondisi masyarakat yang terus dipersulit dalam mendapatkan pelayanan pemerintah.

Namun, sebelum bertarung, dia juga menemui banyak hambatan saat masih akan bergabung ke partai politik. Dua kali ia ditolak oleh partai politik hingga akhirnya dia bertemu dengan Ketua PSI Sumut Fuad Ginting, yang merupakan temannya semasa SMA.

Lalu Fuad menghubungkan dirinya kepada Fahri, Ketua PSI Medan. Dia kemudian jadi Ketua PSI Medan Johor.

“Aku jatuh cinta dengan PSI karena antikorupsi, antiintoleransi,” ujarnya.

Dan, ketika nanti sudah duduk jadi wakil rakyat, dia mengaku akan fokus membenahi ketimpangan infrastruktur dan pelayanan di Kota Medan.

Exit mobile version