Benteng Times

Tidak Ada Khilafah, Tapi Kholifah dalam Pandangan Bung Karno

Bung Karno

Oleh: Dosen UIN Sunan Kalijaga Siti Ruhaini Dzuhayatin

YOGYAKARTA, BENTENGTIMES.com – Berbicara tentang Indonesia sudah pasti tak lepas dengan perisai saktinya, Pancasila yang merupakan dasar Negara Indonesia yang telah disepakati dan final. Lahirnya Pancasila itu berkat buah pemikiran Presiden pertama RI Soekarno yang kemudian dikemukakannya dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945.

Belakangan ini Indonesia tengah dikepung aksi teror. Sejumlah kelompok aksi teror yang mengatas namakan agama dan khilafah. Padahal sudah jelas nyatanya persoalan khilafah ini sangatlah kompleks yang harus paham terlebih dahulu konsep tentang khilafah bahwa sesungguhnya itu tidak ada.

(BACA: Foto Bung Karno dan KPU)

Melainkan yang ada hanya kholifah yang berarti adalah orang yang diberi amanat oleh Allah untuk menjaga alam semesta. Maka dari itu seorang manusia itu adalah kholifah, yang bisa diartikan sebagai perawat, bisa diartikan wakil Tuhan.

Bung Karno menentang konsep tentang negara khilafah. Lantaran baginya konsep bernegara demokratis dengan paham Pancasila sudah sebagai titik temu.

Persoalan kepemimpinan yang disampaikan oleh Bung Karno itu, bagaimana Indonesia harus bisa survive sebagai negara muslim daiantara keberagaman umat dan suku dan budaya.

Bung Karno selalu mengedepankan esensi dan substansi Islam ketimbang simbol-simbol Islam yang kaku. Bung Karno menyalakan, apa yang beliau sebut sebagai api Islam. Ia ingin menghidupkan kembali jiwa Islam sebagai ajaran universal sebagaimana visi etik Al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW.

(BACA: Di Nisel, Djarot Cerita Soal Ajaran dan Perjuangan Bung Karno)

Sebagai pencetus Pancasila dan merumuskan nilai-nilainya, beliau mengadopsi apa yang dilakukan Nabi Muhammad di Madinah sebagai petunjuk urusan menyusun dan membangkitkan masyarakat. Pancasila itu salah satu wujud bagaimana Bung Karno menerapkan visi etik Al-Quran dan sunnah nabi itu.

Bung Karno mendalami Islam saat berada di Ende. Sang Proklamator sangat menekuni pengetahuan Islam berawal saat dari Penjara Sukamiskin kemudian dilanjutkan dengan lebih intensif saat pembuangan di Ende. Presiden pertama RI itu baru mulai mengeluarkan berbagai pendapatnya di media massa mengenai masalah-masalah Islam saat ia dipindahkan ke Bengkulu.

Dalam berbagai tulisannya tentang Islam itu tampak pengetahuan Bung Karno tentang Islam begitu luas dan mendalami persoalan. Selain melahap berbagai buku dari para ulama di berbagai negeri Islam, ia juga murid dari tokoh utama Sarekat Islam: Tjokroaminoto.

Pada saat itu juga Bung Karno menjelaskan ketika menyusun pemikiran-pemikiran politiknya itu bersumber kepada Al-Quran. Hal tersebut pula dilakukan Bung Karno berkoresponden dengan tokoh-tokoh agama seperti, KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah, Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), serta tokoh agama lainya.

(BACA: Djarot: Dada Bung Karno Seakan Berdetak)
Dalam artian bangsa Arab itu yang skala negara muslim terbesar di dunia tidak bisa melihat Indonesia sebagai negara yang realistis. Yang di mana dalam masyarakatnya juga tumbuh umat muslim yang besar.

Hamparan agama yang beragam, etnik yang majemuk, serta bahasa yang berjumlah ratusan lengkap dengan budayanya yang tak terbilang, kemudian diramu dan dipadatkan menjadi Pancasila yang secara aklamasi diterima semua kalangan.

Bagi Bung Karno beragama tidak diidentikkan dengan sikap menyontek budaya lisan, tapi harus tegak lurus dengan kultur setempat.

Beragama tidak berarti antipati terhadap nasionalisme, tapi justru bangsa yang baru saja diproklamasikannya itu menjadi hamparan luas untuk beribadah tanpa harus melucuti Pancasila sebagai dasar negara merdeka (philosofische grondslag) yang menjadi ideologi bangsa dan tanpa mesti memorakporandakan kesepakatan-kesepakatan yang telah dilakukan kaum leluhur, manusia pergerakan, the founding fathers (para pendiri bangsa).

Lebih menarik lagi adalah kemampuan Bung Karno dalam menantang dan mengkonstetasi pemikiran-pemikiran para ulama agar agama bisa mentransformasikan etnosentrism menjadi nation state. Jadi berkat Bung Karno dan para tokoh-tokoh muslim sangat berjasa yang bukan hanya merumuskan Pancasila saja namun mampu untuk menata arti nilai positif dalam kehidupan bernegara diantara perbedaan dan umat beragama. Hal itu mampu menjawab tantangan zaman, yaitu Islam yang mampu ditransformasikan ke dalam norma-norma publik di dalam negara.

Exit mobile version